November 28, 2011

Positive, negative, and right thinking

Well, hi gals!
Pernah dengar kalimat di atas?
Saya...sering sekali. Bahkan kalau boleh jujur, semalam saya diingatkan lagi mengenai kalimat di atas oleh Ibunda saya tercinta. Diingatkan kembali untuk, harus menjunjung tinggi apa yang disebut positive thinking. Tak hanya pada diri saya pribadi, tapi pada orang-orang disekitar saya. Dan sekarang, saya mulai mempertanyakan keabsahan apa itu yang dimaksud positive thinking dan esensinya bagi kehidupan saya.
Well, kalau boleh saya menambahi, sebenarnya, kita tau gak sih arti mendalam tentang positive thinking, atau sang kebalikan, negative thinking? Dan apa yang kamu tau tentang right thinking vs wrong thinking?

Saat saya melakukan blogwalking siang ini, saya mendapati sebuah tulisan yang (jujur) membuat otak saya mengingat tentang pembicaraan saya dan Ibunda tercinta saya semalam. Tentang positive thinking. Dan kalau boleh jujur tanpa berniat meng-alay-kannya, saya merasa sakit kepala. Otak saya dipacu untuk memikirkan mengenai apa sih positive thinking itu? Dan kenapa kadang apa yang saya pikirkan mengenai hal itu berbeda makna dengan orang lain?

Menurut Adi W Gunawan, selama ini kita selalu yakin dan percaya bahwa positive thinking adalah pikiran yang "positif" dan "bermanfaat" bagi kita. Sedangkan negative thinking adalah pikiran yang negatif dan merugikan diri kita. Kita mengamini hal ini karena ini yang kita pelajari dari berbagai pembicara terkenal, buku-buku pengembangan diri, dan dari berbagai seminar atau workshop. Ada beberapa definisi lain yang menjadi paradigma pula, yaitu positive thinking adalah pikiran yang bermanfaat bagi kita, dan negative thinking sebagai kebalikannya, yaitu pikiran yang merugikan diri kita (bagi saya juga kadang begitu).

Ternyata positive thinking saja tidak cukup untuk bisa meraih sukses (disini nih titik poin utama yang hendak saya jelaskan). Baik positive maupun negative thinking masih dipengaruhi oleh persepsi dan keterbatassan pola pikir kita sendiri. Jadi, apa yang kita yakini sebagai sesuatu yang positif ternyata belum tentu positif. Bisa jadi, kita merasa atau yakin pikiran ini positif karena berdasar pada asumsi atau paradigma berpikir yang salah, yang masih dipengaruhi oleh belief system kita (yang sebagian besar orang masih menganutnya), yang kita yakini sebagai hal yang benar. Jadi kita merasa telah berpikir positif, padahal justru belum tentu yang kita lakukan adalah positive thinking. 

Pernah dengar ayat Allah SWT pada surat Al-Baqarah ayat 216 yang artinya, "...Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia tidak baik bagi kamu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
Membaca ayat tersebut (jujur) sangat membuat hati saya bergidik. Apa yang menjadi definisi antara positive thinking dan negative thinking justru makin lama makin mengaburkan bayangan saya mengenai definisi yang tepat bagi keduanya. Tapi, ITULAH MANUSIA. Yang kita perlu lakukan hanya adalah berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi diri bahkan pemikiran dan paradigma kita. Meminimalisir hal-hal yang didefinisikan sebagai negative thinking ke positive thinking dan akhirnya mencapai right thinking

Mengapa right thinking
Dari tulisan Adi W Gunawan, saya mengetahui definisi apa itu right thinking. Right thinking adalah mengetahui siapa diri kita yang sesungguhnya, apa tujuan hidup kita yang tertinggi, apa misi hidup kita di dunia ini, dan menyelaraskan diri dengan hukum abadi yang mengatur alam semesta. Right thinking juga berarti kita berpikir dengan dasar Kebenaran dan menjadi dasar dari semua proses dan level berpikir lainnya. Right thinking berasal dari kesadaran akan kebenaran atau dari realitas yang sesungguhnya dari setiap situasi yang kita hadapi. Right thinking membuat kita mampu melihat segala sesuatu apa adanya, tanpa terpengaruh emosi sehingga kita bersikap netral. 

Definisi itulah yang membantu saya memahami arti dan makna dari ayat Allah SWT pada surat Al-Baqarah ayat 216. Sebuah pemikiran yang revolusioner mengenai apa yang seharusnya kita lakukan, atau bagaimana kita menyikapi sesuatu yang terjadi atas diri kita, melakui kaidah dan koridor yang benar. Awalnya, saya juga bingung. Belum bisa membedakan batas abu-abu antara ketiganya yang masih saja memusingkan otak saya sepanjang siang ini. Syukurlah Adi W Gunawan tidak lupa memberi saya sebuah contoh kasus yang memudahkan saya untuk memahami. 

Well, misalnya ada orang yang menghina kita. Apa yang kita lakukan?

Kalau negative thinking maka dengan pasti yang terjadi dan refleks pada diri kita sebagai reaksi atas hal tersebut adalah "akan marah besar". Semakin berkobar emosi kita maka akan semakin negatif kita jadinya. Emosi yang dipicu oleh negative thinking ibarat bensin yang disiramkan ke kobaran api. Kita menyalahkan orang yang telah menghina kita. Pokoknya, orang ini yang salah, titik. 

Nah, kita (masyarakat umumnya), biasanya, akan berusaha mengatasi hal ini dengan menggunakan positive thinking. Apa yang kita lakukan? Kita berusaha berpikir positif, berusaha memaafkan, berusaha mengerti, melakukan reframing, berusaha mengendalikan emosi kita, berusaha mencari hal-hal positif dari kejadian ini. 

Bagaimana dengan right thinking sendiri? Dengan right thinking kita mencari kebenaran dari apa yang kita alami. Kita harus melampaui belief system kita untuk bisa menggunakan right thinking. Tanyakan kepada diri kita, "Kebenaran apa yang terkandung dalam kejadian ini?". Saat kita mendapat jawaban dari hati nurani kita dan kita melakukan tindakan berdasar jawaban yang kita peroleh maka pada saat itu kita telah menggunakan right thinkingRight thinking berarti kita menyadari sepenuhnya bahwa kita bukanlah pikiran kita. Kita adalah yang menggerakkan pikiran kita. Kita mencipta realita hidup kita. Kita bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang kita alami, hal yang baik maupun yang buruk. 

Saat seseorang menghina kita, apakah benar bahwa "kita" yang dihina? Coba tanyakan pada diri kita secara jujur. "Sebenarnya siapa sih yang dihina? Apakah benar saya dihina? Bagian mana dari diri saya yang merasa dihina?". 

Kalau kita menggunakan right thinking maka kita sadar bahwa sebenarnya kita tidak dihina. Tidak ada seorang pun yang bisa menghina kita. Yang sebenarnya terjadi adalah kita telah memberikan makna terhadap kejadian itu, berdasar pada asumsi, persepsi, pengalaman hidup di masa lalu, belief system, dan value kita, yang mengakibatkan munculnya emosi negatif. Eleanor Roosevelt dengan sangat bijak berkata, "No one can make you feel inferior without your consent." 

OK, kita (sebagian) mungkin akan berkata, "Lha, tapi kita kan tetap tersinggung karena dihina." Kalau anda tetap bersikeras dengan pendapat ini, baiklah, ijinkan saya mengajukan satu pertanyaan pada anda, "Siapakah yang tersinggung atau merasa terhina? Aku? Saya? Aku yang mana? Bagian mana dari diri saya yang tersinggung? ". Kalau kita mau jujur maka yang sebenarnya "kena" adalah perasaan kita. Pertanyaan selanjutnya adalah, "Apakah perasaan kita sama dengan diri kita? Apakah perasaan kita adalah diri kita?". Tentu tidak, bukan? Perasaan, sama dengan pikiran, akan selalu timbul dan tenggelam, tidak abadi, dan sudah tentu bukan diri kita.


So, kawan... mungkin pembahasan saya belum terlalu dalam. Tapi, saya meyakini bahwa apa yang terjadi pada diri kita, tidak hanya murni karena orang lain, tapi kalau mau diulik secara lebih mendalam, kita-lah yang membuat diri kita seperti itu. Pepatah yang paling tepat untuk membenarkannya adalah, "Kita adalah apa yang kita pikirkan", bukan?

Saya adalah manusia biasa juga loh? (jangan harap saya lantas menjadi dewa hanya karena membahas ini ya?). Saya jujuri, saya belum bisa mengarah pada kondiri yang memicu saya untuk ber-right thinking. Bahkan sering kali, untuk ber-positive thinking saja saya masih susah minta ampun. Saya yang terlalu peka dan sensitif sering kali justru makin menenggelamkan saya pada ke-negativethinking-an saya sendiri, yang tidak jarang (jujur) menimbulkan banyak masalah dalam kehidupan saya. Tapi, bukan berarti karena menganggap diri saya manusia yang kata banyak orang memang lumrah melakukan kesalahan (meskipun hal itu benar adanya), saya akan berusaha semampu saya untuk meminimalisirnya. Agar saya selangkah lebih mampu me-right thinking-an diri dan pikiran saya.

Trims to : Bapak Adi W Gunawan.
Sebagian tulisan saya menyadur tulisan beliau (Positive, negative, and right thinking), dan saya tulis ulang dengan gaya bahasa saya yang mengacau. Dan trims tuk semua yang membaca.

Let's be positive, and be the right thinker. :)

No comments :

Post a Comment